Senin, 26 Mei 2008

bintang

Seorang professor yang hari itu mengajar di sebuah fakultas ekonomi, tiba-tiba saja memberikan sebuah tes kepada mahasiswanya. Dia memberikan tiga kategori pertanyaan dan meminta para mahasiswanya untuk memilih salah satu kategori dari setiap bagian tes.
Kategori pertama berisi pertanyaan-pertanyaan yang paling sulit dan bernilai lima puluh point, yang kedua tidaklah terlalu sulit dan bernilai empat puluh point, yang ketiga yang paling mudah tapi hanya bernilai tiga puluh point. Setelah waktu habis dan semua mahasiswa mengumpulkan kertas jawaban, sang professor langsung memeriksa jawaban dan memberikan nilai A kepada para mahasiswa yang memilih pertanyaan sulit yang bernilai 50 point, nilai B kepada mereka yang memilih pertanyaan bernilai 40 point dan nilai C kepada yang memilih pertanyaan bernilai 30 point. Para mahasiwa tertegun dan tidak mengerti maksudnya hingga sang professor berdiri dan berkata sambil tersenyum:"Hari ini saya tidak bermaksud menguji pengetahuan kalian, tapi saya sedang menguji sasaran kalian.". Langston Hughes pernah mengatakan:"Peganglah teguh impianmu, sebab jika impian itu mati maka kehidupan bagaikan burung yang patah sayapnya dan tidak bisa terbang." Browning berkata;"Jangkauan seseorang haruslah melampaui kepanjangan tangannya, jika tidak.. untuk apa Surga?". Bahkan semenjak kecil kita sudah menyanyikan lagu ‘Bintang Kecil', bermimpilah sebesar-besarnya, jangkaulah setinggi-tingginya dan pilihlah pertanyaan bernilai lima puluh point.
dikutip dari Haryo Ardito,
Ketua Harian Asosiasi Manajemen Indonesia - DKI Jakarta
Website: www.haryoardito.com

bangkit

Tanpa terasa, seratus tahun sudah, kita memperingati Hari Kebangkitan Bangsa. Sebuah hari yang mengingatkan kita pada cita-cita besar untuk mempersatukan bangsa. Cita-cita itu dimulai dari sebuah perkumpulan pemuda yang didirikan oleh Dr Soetomo, tepatnya pada 20 Mei 1908 silam. Di bawah penjajahan Belanda, para pemuda tersebut mempunyai cita-cita luhur, demi memikirkan nasib bangsa yang kala itu sangat buruk, selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain.
Kini, seratus tahun kemudian, setelah hampir 63 tahun kita merdeka, kita perlu kembali menanyakan makna Hari Kebangkitan Bangsa tersebut. Sebab, hingga kini, cita-cita tersebut sepertinya masih harus terus diperjuangkan. Apalagi, sejak era krisis moneter yang-bisa dikatakan-belum pulih sepenuhnya. Kita juga perlu bertanya, apakah dalam masa kepemimpinan enam presiden yang berbeda, telah mengantarkan kita pada era kebangkitan yang sebenarnya?. Satu abad bukanlah masa yang singkat dalam hitungan waktu. Namun, untuk sebuah perjuangan, nampaknya waktu satu abad berlalu dengan cepat. Karena itulah, tepat kiranya jika momen seratus tahun Kebangkitan Nasional ini kita jadikan sebagai sarana refleksi diri dan bangsa. Inilah saatnya menghadirkan kembali ruh dan jiwa kebangsaan Indonesia dalam diri dan pribadi masing-masing. Seperti yang dicita-citakan Organisasi Boedi Oetomo, yakni keinginan menyatukan para pemuda dalam sebuah organisasi yang terbuka dan tidak berdasar kelompok tertentu, maka selayaknya kita juga perlu menjadikan persatuan sebagai dasar penyemangat untuk bangkit, sejajar dengan negara-negara lain di dunia. Sebab, hanya dengan memosisikan diri sejajar dengan bangsa lain, kita akan mampu menunjukkan jati diri dan kebesaran Indonesia sebagai sebuah bangsa yang kaya, baik kaya Sumber Daya Alam, maupun manusianya. Maka, adanya semboyan adiluhung, Bhinneka Tunggal Ika-berbeda-beda, tetapi tetap satu- adalah sebuah simbol kekayaan bangsa, yang perlu kita pupuk untuk menjadi solusi kebangkitan bersama. Hanya dengan persatuan dalam kebersamaan, kita mampu membangun kembali harga diri bangsa. Dengan semangat tersebut, kita akan dapat mengenali kelemahan dan kekurangan, sehingga bisa dijadikan sarana evaluasi untuk mengembalikan harkat dan martabat kita. Mari, secara tegas dan tuntas, kita buang semua hal negatif, seperti disintegrasi, ketidakdisiplinan, ketidakpercayaan diri, kemalasan, keengganan belajar, dan semua sifat serta sikap yang hanya akan membelenggu kita pada keterpurukan. Tentu, ini membutuhkan kerja bersama dari semua pihak. Kita hilangkan sifat saling menyalahkan dan kita ganti dengan sikap saling dukung dan dorong demi membangun kemajuan bersama. Kita tumbuhkan kekayaan mental untuk membuktikan bahwa sukses juga adalah hak bangsa kita. Success is my right!!! Dengan semangat seratus tahun kebangkitan bangsa, kita bangun kembali ruh dan jiwa sebagai bangsa Indonesia yang satu. Tak perlu menunggu instruksi dari atasan, tak perlu mencari-cari penghargaan, kita buktikan dengan tindakan nyata, Indonesia akan segera bangkit, sejajar dengan bangsa lain di dunia.
dikutip dari "www.andriewongso.com"

Senin, 12 Mei 2008

Belajar

Saya belajar,
Bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya.
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya Cintai. . .
Saya belajar,
Bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun Kepercayaan dan Hanya beberapa detik saja untuk menghancurkanya . . .
Saya belajar,
Bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat, Justru adalah orang yang membangkitkan Semangat hidup saya kembali serta Orang yang begitu perhatian pada saya . . .
Saya belajar,
Bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan Banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik
Saya belajar,
Bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau Dipisahkan oleh jarak yang jauh. Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati. . .
Saya belajar,
Bahwa jika seseorang tidak menunjukan perhatian Seperti yang saya inginkan, Bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya. . .
Saya belajar,
Bahwa sebaik-baik perasan itu,mereka pasti pernah melukai perasan saya Dan untuk itu saya harus memaafkannya . . .
Saya belajar,
Bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan dan orang lain . . . Kalau tidak mau dikuasai perasan bersalah terus menerus . . .
Saya belajar,
Bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, Dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya . . .
Saya belajar,
Bahwa saya tidak dapat merubah orang yang saya sayangi, Tapi itu semua tergantung dari diri mereka sendiri
Saya belajar,

Bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya, Tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya Telah lakukan . . .
Saya belajar,
Bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda, Tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda . . . Apakah anda menangis untuk kesedihannya
Saya belajar,
Bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, Tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya

Saya belajar,
Bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini, Semua butuh proses dan pertumbuhan, Kecuali saya ingin sakit hati . . .
Saya belajar,
Bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi Atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya . . .
Saya belajar,
Bahwa saya punya hak untuk marah, Tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis . . .
Saya belajar,
Bahwa kata-kata manis tanpa tindakaan adalah saat Perpisahan dengan orang yang saya cintai . .
Saya belajar,
Bahwa orang-orang yang saya kasihi justru sering Diambil segera dari kehidupan saya . . .

Selamat belajar, semoga kamu sadar . .! !

Sesuatu yang Benar tidak Selalu Populer

Sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api. Jalur yang pertama adalah jalur aktif (masih sering dilewati KA), sementara jalur kedua sudah tidak aktif. Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang tidak aktif (tidak pernah lagi dilewati KA), sementara lainnya bermain di jalur KA yang masih aktif. Tiba-tiba terlihat ada kereta api yang mendekat dengan kecepatan tinggi.Kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah KA tersebut. Apakah Anda akan memindahkan arah KA tersebut ke jalur yang sudah tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang bermain??? Namun hal ini berarti Anda mengorbankan seorang anak yang sedang bermain di jalur KA yang tidak aktif. Atau Anda akan membiarkan kereta tersebut tetap berada di jalur yang seharusnya? REFLEKSI Sebagian besar orang akan memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya mengorbankan jiwa seorang anak. Anda mungkin memiliki pilihan yang sama karena dengan menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan seorang anak adalah sebuah keputusan yang rasional dan dapat disyahkan baik secara moral maupun emosional. Namun sadarkah Anda bahwa anak yang memilih untuk bermain di jalur KA yang sudah tidak aktif, berada di pihak yang benar karena telah memilih untuk bermain di tempat yang aman? Disamping itu, dia harus dikorbankan justru karena kecerobohan teman-temannya yang bermain di tempat berbahaya. Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Di kantor, di masyarakat, di dunia politik dan terutama dalam kehidupan demokrasi, pihak minoritas harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas. Tidak peduli betapa bodoh dan cerobohnya pihak mayoritas tersebut.Nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya di jalur KA yang berbahaya telah dikesampingkan. Dan bahkan mungkin kita tidak akan menyesalkan kejadian tersebut. Seorang teman yang men-forward cerita ini berpendapat bahwa dia tidak akan mengubah arah laju kereta karena dia percaya anak-anak yang bermain di jalur KA yang masih aktif sangat sadar bahwa jalur tersebut masih aktif. Akibatnya mereka akan segera lari ketika mendengar suara kereta mendekat. Jika arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka seorang anak yang sedang bermain di jalur tersebut pasti akan tewas karena dia tidak pernah berpikir bahwa kereta akan menuju jalur tersebut. Disamping itu, alasan sebuah jalur KA dinonaktifkan kemungkinan karena jalur tersebut sudah tidak aman. Bila arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka kita telah membahayakan nyawa seluruh penumpang di dalam kereta, dan mungkin langkah yang telah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak dengan mengorbankan seorang anak, akan mengorbankan lagi ratusan nyawa penumpang di kereta tersebut.Kita harus sadar bahwa HIDUP penuh dengan keputusan sulit yang harus dibuat, dan mungkin kita tidak akan menyadari bahwa sebuah keputusan yang cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar.
"Ingatlah bahwa sesuatu yang benar
tidak selalu populer dan sesuatu yang populer tidak selalu benar"